Konser Musik Djaduk Ferianto & KuaEtnika “Nusa Swara”

Posted on September 5th, 2010 in berita,dolan,stories by amma

selasa, 31 Agustus kemarin saya berkesempatan meliput bonus menonton konser Djaduk Ferianto & Kua Etnika yang diberi tajuk “Nusa Swara” di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Penuh sesak saat saya memasuki ruang konser, bahkan kelas festival yang berada didepan stage yang berupa lesehan pun sudah tak muat lagi (masih untung dapet lesehan dengan gratis :D ) rupanya dikarenakan banyak yang pembeli tiket VIP malah duduk di lesehan (welaah?).

namun saya juga sedikit terganggu dengan beberapa ulah penonton kelas festival yang “tidak tahu sopan” berjalan mencari tempat duduk kosong di depan penonton yang sudah duduk. tapi kebetean saya rada berkurang setelah mendengar permainan Kua Etnika.

dengan perpaduan musik kontemporer dari beragam alat musik tradisional, lokal dan internasional, Kua Etnika tampil dengan memukau, menggigit dan membius beratus-ratus penonton. belum lagi dengan humornya yang lucu disetiap jeda permainannya. applaus meriah selalu terdengar deh pokokna.

konser dibuka dengan penampilan dari mba Trie Utami yang kita tahu bahwa suaranya emang jos gandhos lah yaw, yang menyanyikan lagu dengan judul Tresnaning Tiyang. tambah meriah saat Djaduk Ferianto mendapuk Glen Fredly yang kebetulan lama itu juga ikut nonton untuk menyanyikan lagu Matahari.

konser musik Kua Etnika Nusa swara ini nieh digelar di Yogyakarta sebagai “pemuas dahaga” sekaligus bagian dari launching album ketujuh Kua Etnika dengan judul yang sama Nusa Swara.

“Nusa Swara” sendiri merupakan upaya kreatif Kua Etnika Yogyakarta untuk kembali menafsir dan memaknai konsep wawasan nusantara. “Nusa Swara” sebagai judul mengacu pada “nusa” sebagai entitas kebangsaan serta “Swara” adalah suara yang mencoba membunyikan semangat dari nusantara itu sendiri. Nusa swara sesungguhnya mengacu atau bermain-main dengan idiom nusantara sebagai wawasan dan kawasan.

Komposisi dalam album baru ini sudah di susun sejak setahun lalu. dimana dalam proses pengerjaan komposisi itu, ada Sesuatu yang urgen dan mendesak yang harus direfleksikan kembali, yakni soal Nusantara. Baik sebagai gagasan, semangat bahkan impian..

Nomor-nomor komposisi yang dimainkan adalah Tresnaning Tiyang, Bromo, Merapi Horeg, Matahari, Cilik, Kennanemi, Sintren, Kembang Boreh, Nirwana, Reog, Ronggeng to Latinos. Dalam komposisi Bromo, Reog dan Sintren misalnya, akan terasa sekali keragaman “suara-suara nusantara” itu. Bahkan dalam lagu sintren, Trie utami masuk dalam kurungan ayam dan keluar dengan memakai kaca mata hitam berumbai bunga melati, hal ini sebagai keprihatinan dengan kebudayaan sintren yang sudah mulai tersisih.

Sedang di komposisi Nirwana, Ronggeng to Latinos, dan Kennanemi memperlihatkan eksplorasi gagasan musik Kua Etnika mengenai wawasan kebudayaan Nusantara yang diyakini dan hayati bahwa nusantara adalah kawasan multi budaya, dimana segala suara datang dari penjuru dunia. Sejak berdiri tahun 1995, Kua Etnika telah menempatkan diri sebagai salah satu kelompok musik yang tekun mengolah khasanah musik etnis dengan semangat kontemporer dan sudah menghasilkan beberapa album, antara lain Nang Ning Nong Orkes Sumpeg, Ritus Swara, Unen Unen. Selain itu juga telah menghasilkan album hasil kolaborasi dengan pemusik-pemusik manca negara.

Dan diharapkan melalui konser Nusa swara ini dapat kembali memperluas cakrawala kesadaran dalam memahami warisan kekayaan kebudayaan yang melimpah dan menyediakan banyak ruang tafsir bagi dialog yang kreatif dan cerdas. betapa yang disebut Nusantara sesungguhnya adalah proses panjang (yang nyaris tak pernah berhenti) dari pelbagai suara-suara yang kemudian menjadi orkestra bangsa Indonesia. (Amm)

Post a comment