Suatu Sore di Candi Sambisari

Posted on August 7th, 2011 in berita,corat-coret,dolan,stories by amma

Sore hari, sambil menunggu sunset saya, husby dan beberapa temannya menyempatkan diri untuk sekedar menikmati hangatnya mentari di sekitar Candi Sambisari. Candi ini memang sedikit kalah pamor dengan candi yang ada di Yogyakarta seperti Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Namun demikian Candi Sambisari sekarang juga telah menjadi tujuan wisata baik oleh wisatawan domestik dan mancanegara.

Sesampai di lokasi candi, tidak terlihat keramaian pengunjung. Hanya beberapa pasangan dan kelompok keluarga. Candi yang terletak di Desa Sambisari, Kelurahan Purwomartani, lebih kurang 12 Km dari pusat Yogyakarta. Sambisari sendiri adalah nama sebuah daerah dimana candi itu berada. Untuk mencapai lokasi candi sangatlah mudah, karena lokasi candi terletak di utara jalan utama Jogja – Solo Km 10 dan akan ada papan penunjuk di sebelah kiri lalu anda tinggal ikuti saja alur jalannya (kira-kira 2 km).

Candi yang ditemukan tahun 1966 secara tidak sengaja oleh seporang petani bernama Karyowinangun ini diperkirakan dibangun antara tahun 812 – 838, kemungkinan pada masa pemerintahan Rakai Garung dari dinasti Sanjaya dengan patung Shiwa sebagai mahaguru menempati bilik utamanya. Candi Hindu dari abad ke-10 ini berada 6,5 meter lebih rendah dari wilayah sekitarnya kalau dilihat dari atas lebih merupakan susunan batu atap. Berdasarkan penelitian geologis terhadap batuan candi dan tanah yang telah menimbunnya, candi ini telah terbenam oleh material Gunung Merapi dalam letusan yang hebat pada tahun 1006.

Identitas Diri – KTP (dari Masa ke masa)

Posted on October 16th, 2010 in artikel,berita,corat-coret by amma

Selain menarik dan unik, barang-barang dari jaman dulu selalu saja membuat kita yang hidup di jaman sekarang yang serba modern penasaran dan takjub (setidaknya ini menurut saya loh ya). Banyak aneka rupa barang dimasa kini yang berbeda dengan jaman dulu bentuknya. Seperti yang akan saya tulis sekarang. Munculnya tulisan ini hanya dikarenakan saya baru saja mengeluarkan KTP untuk melengkapi data diri pada sebuah situs BUMN.

Ktp atau kartu tanda penduduk adalah identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang telah diterbitkan oleh Instansi Pelaksana yang berlaku diseluruh wilayah Indonesia. Kartu ini baru boleh didapat bagi warga yang sudah berumur 17 tahun atau sudah pernah kawin dan kartu ini wajib dimiliki oleh warga negara Indonesia dan Warga negara Asing (WNA) yang memiliki izin tetap tinggal (ITAP). KTP bagi WNI berlaku selama lima tahun dan tanggal berakhirnya disesuaikan dengan tanggal dan bulan kelahiran yang bersangkutan. KTP bagi WNA berlaku sesuai dengan masa izin tinggal tetap. Khusu warga yang telah berusia 60 tahun ke atas, akan mendapat KTP seumur hidup yang tidak perlu diperpanjang setiap lima tahun sekali.

KTP berisi informasi mengenai sang pemilik kartu, seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK), Nama lengkap, tempat tanggal lahir, Jenis kelamin, Agama, Status Perkawinan, Golongan Darah, Alamat, Pekerjaan, Kewarganegaraan, Foto, Masa berlaku, Tempat dan tanggal dikeluarkan KTP, Tanda tangan pemegang KTP, serta nama dan nomor induk pegawai pejabat yang menandatanganinya.

Hal-hal diatas adalah yang tertera dalam KTP bentuk sekarang atau zaman sekarang. lalu kalau KTP jaman dulu alias jaman waktu di jajah belanda dan jepang?

KTP zaman dulu juga ada tanda tangan dan fotonya, hanya saja keterangannya tidak lengkap seperti sekarang. Dari sisi kertas dan bentuk juga mengalami perubahan. zaman dulu lebar atau panjang ada covernya yang sepintas malah mirip paspor atau akte kelahiran, sedang jaman sekarang bentuknya lebih kecil.

Seperti Kartu Tanda Penduduk di Jaman Belanda (Nederlandsh Indie). Verklaring van Ingezetenshap, voor personen in Nederlandsgh Indie geboren, atau artinya, Kartu Tanda Penduduk untuk orang yang lahir di Hindia Belanda. Kartu ini diterbitkan di Batavia (sekarang lebih dikenal dengan Jakarta), pada 14 April 1921. Dokumen ini dicetak diatas kertas zegel jenis emboss, dengan nilai 1 1/2 Gulden (Een Gulden en Vijftig cent), dengan ukuran 15 cm x 10 cm, yang sekarang merupakan sebuah dokumen sipil kuno yang cukup langka. penasaran?
cover depan

tampak dalam
Photobucket

Konser Musik Djaduk Ferianto & KuaEtnika “Nusa Swara”

Posted on September 5th, 2010 in berita,dolan,stories by amma

selasa, 31 Agustus kemarin saya berkesempatan meliput bonus menonton konser Djaduk Ferianto & Kua Etnika yang diberi tajuk “Nusa Swara” di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Penuh sesak saat saya memasuki ruang konser, bahkan kelas festival yang berada didepan stage yang berupa lesehan pun sudah tak muat lagi (masih untung dapet lesehan dengan gratis :D ) rupanya dikarenakan banyak yang pembeli tiket VIP malah duduk di lesehan (welaah?).

namun saya juga sedikit terganggu dengan beberapa ulah penonton kelas festival yang “tidak tahu sopan” berjalan mencari tempat duduk kosong di depan penonton yang sudah duduk. tapi kebetean saya rada berkurang setelah mendengar permainan Kua Etnika.

dengan perpaduan musik kontemporer dari beragam alat musik tradisional, lokal dan internasional, Kua Etnika tampil dengan memukau, menggigit dan membius beratus-ratus penonton. belum lagi dengan humornya yang lucu disetiap jeda permainannya. applaus meriah selalu terdengar deh pokokna.

konser dibuka dengan penampilan dari mba Trie Utami yang kita tahu bahwa suaranya emang jos gandhos lah yaw, yang menyanyikan lagu dengan judul Tresnaning Tiyang. tambah meriah saat Djaduk Ferianto mendapuk Glen Fredly yang kebetulan lama itu juga ikut nonton untuk menyanyikan lagu Matahari.

konser musik Kua Etnika Nusa swara ini nieh digelar di Yogyakarta sebagai “pemuas dahaga” sekaligus bagian dari launching album ketujuh Kua Etnika dengan judul yang sama Nusa Swara.

FRAU

Posted on May 11th, 2010 in artikel,berita,dolan,stories by amma

mungkin tak banyak yang tahu cewek bersuara bening dengan permainan pianonya yang menenangkan dan melenakan ini. begitupun saya..mengetahui FRAU dengan tidak sengaja.
yah, akhir April 2010 kemarin saya bersama seorang kawan yang baik hati awalnya berencana menghabiskan malam dengan menyaksikan suasana kota Yogyakarta dari atas “Bukit Bintang”. namun apalah daya, rencana tinggalah rencana saat tugas “meliput” memanggil semua rencana itupun buyar.
lalu meluncurlah kami ke Jogja Musium Nasional, memecah angin malam yang membawa aura dingin, melawan angin bulan April yang lumayan menusuk tulang..
sesampai di TKP rupanya sudah banyak orang yang mengantri membeli tiket masuk. Launching dan Promo album Tika & The Dissident ternyata mampu menarik anak muda yogya untuk menikmatinya dan melihat performance dari dekat.

dan dengan hanya menunjukkan “id ajaib” kami berdua pun akhirnya melenggang masuk dengan mudah. awalnya, saya berniat hanya sebentar di TKP. saya pikir pastilah acara ini sama seperti acara musik lainnya..jadi cukuplah foto-foto, mewancarai ketua penyelenggara dan kami masih bisa naik ke “bukit bintang”.

nyatanya….FRAU (sebagai penampilan pembuka) membuat saya tetap diam di tempat..saya terpukau dengan suara beningnya..permainan pianonya..lirik-lirik lagunya..dan yah, FRAU membuat semua yang ada di Jogja Musium Nasional terdiam menikmati harmoni musik dari tuts-tuts piano yang dia mainkan..

dengarkan saja lagu Mesin Penenun Hujan, Sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa, Glow..dan lagu-lagu lainnya..FRAU memainkan imajinasi kita dengan lirik lagunya..so amazing..

PS. buat yang sudah mendownloadkan semua lagu FRAU untukku..danke (terima kasih)!!!

Beny dan Mice Expo : Potret Indonesia dari Dalam

Posted on April 12th, 2010 in berita,corat-coret,dolan by amma

Pameran bertajuk “Benny & Mice Expo” yang diselenggarakan di venue Bentara Budaya Yogyakarta (6 – 15 April 2010) adalah pameran terbesar sepanjang karir dari kedua kartunis Benny Rachmadi (Benny) dan Muhammad Misrad (Mice). Asal tahu aja guys, pameran ini berlangsung juga di Bentara Budaya Jakarta, Solo, Bali dan gedung CCCL Surabaya.

Ndak tahu, Benny & Mice? Beuh..kemana aja guys selama ini? Benny & Mice itu Salah satu serial strip komik yang lagi ngetrend dan popular saat ini yang terbit setiap Minggu di harian Kompas. Dan kedua tokoh tersebut dihasilkan oleh dua orang. Keren kan?

Ndak kebayang deh repotnya menyatukan ide, gagasan dan cerita sehingga muncul karya yang oks banget. Tapi nyatanya mereka bisa loh. salut!!!

Konyol, jitu dan jenaka namun mengena itu yang tampak dari tokoh Benny & Mice. Pada awalnya nih strip komik ini banyak mengambil latar keadaan kota Jakarta, namun pada perkembangan selanjutnya melakukan kritik sosial kepada penduduk Jakarta dan Indonesia dari semua kalangan.

Benny yang berambut keriting dan Mice yang berambut lurus berkacamata, sesungguhnya adalah gambaran dari dua pengarangnya sendiri. Benny & Mice bercerita mengenai dua lelaki berumur 30an yang mencoba bertahan hidup di kota Jakarta. Dua sahabat yang termarginalkan secara structural dan perpaduan dua karakter yang menyatu : polos, jujur, jahil, kampungan dan konyol. Yang jelas sieh, kedua tokoh ini merupakan perwakilan dari jutaan rakyat yang terjebak dalam kemiskinan kota besar seperti Jakarta.

Selain pameran juga ada workshop Penerbitan Buku Populer “Hidup Hirau Hijau” dan workshop Komik Strip. Semuanya gratiiisssss…..dijamin nyesel deh kalo ndak dateng!!!

Penasaran dengan tokoh Benny & Mice? Wuigh jangan khawatiir..ada bukunya juga..cek aja ke Toko Buku…:p